5 Tempat untuk Bulan Madu di Indonesia

  1. Resto Apung Kintamani

Sesuai dengan namanya, tempat makan romantis ini posisinya mengapung dan letaknya di tengah danau, tepatnya Danau Batur. Bayangkan betapa romantisnya makan malam bersama pasangan di tengah hamparan danau yang indah. Untuk menuju ke sana, sudah disediakan jembatan untuk para pengunjung. Jadi, ini merupakan tempat romantis untuk bulan madu, kan. Menggandeng pasangan kita sebelum sampai ke spot utama adalah sesuatu yang romantis dan tak terlupakan.

  1. Pantai Parangtritis

Menyaksikan indahnya sunset bersama merupakan salah satu hal yang wajib dilakukan pasangan. Anda bisa mencobanya dengan melihat dari sebuah pantai yang berada di selatan Jogjakarta. Pantai Parangtritis namanya. Perjalanan dari kota Jogja yang lumayan jauh, yaitu sekitar 25 KM akan terbayar seketika Anda dan pasangan menyaksikan pemandangan yang begitu eksotis. Selain itu, di sana tersedia banyak hiburan seperti penyewaan ATV. Anda dan pasangan dapat berboncengan seraya menikmati suara deburan ombak. Bagi yang kemalaman, di sana juga terdapat penginapan yang dibandrol dengan harga murah.

  1. Kepulauan Karimunjawa

Tempat bulan madu ini masih berada di teritorial Jawa Tengah. Dengan luas daratan yang sekitar 1500 hektar dan perairannya kurang lebih 110.000 hektar, kepulauan ini cukup berhasil membuat penasaran banyak wisatawan akan keindahan bawah lautnya. Selain snorkeling yang tentunya menikmati keindahan bawah laut dan terumbu karangnya, kepulauan Karimunjawa ini juga memiliki pantai yang bisa dibilang masih asri. Oh, ya Anda dan pasangan juga dapat menikmati perbukitan di kepulauan ini, yang tak kalah romantis dengan tempat-tempat lainnya di Karimunjawa.

  1. Dataran Tinggi Dieng

Bersama pasangan, apalagi yang sedang berbulan madu, sangat cocok jika berada di tempat yang memiliki hawa sejuk. Dataran tinggi Dieng adalah salah satu dari sekian banyak tempat yang memiliki kriteria tersebut. Di tempat ini, karena udaranya cukup dingin, jangan lupa membawa baju hangat agar tujuan Anda menikmati keunikan tempat wisata ini tidak sia-sia. Di sini, terkenal dengan telaganya yang dapat berubah warna. Indah, kan jika dinikmati bersama pasangan. Beberapa tempat lain yang bisa Anda kunjungi di dataran tinggi ini di antaranya kawah-kawah seperti Kawah Candradimuka, Kawah Sikidang, atau mungkin Kawah Sileri.

  1. Gili Nanggu, Lombok

Di Pulau Lombok, tempat wisata yang terkenal adalah Gili Trawangan dan Gili Meno. Namun, sebenarnya masih ada satu pulau lagi bernama Gili Nanggu. Iya, karena di tempat ini jarang dikunjungi wisatawan, Gili Nanggu masih terbilang sangat sepi. Namun, itulah uniknya jika Anda memilih tempat ini sebagai destinasi bulan madu Anda. Tentu saja, keuntungannya adalah Anda dan pasangan yang sedang berbulan madu menjadi tidak terlalu bising atau terganggu dengan wisatawan lainnya.Toh keindahan di pulau ini tidak kalah dengan kedua pulau lainnya itu.

Selamat berbulan madu!

Iklan

MENGALIHKAN PANGGILAN TELEPON

Si A punya nomor HP (sim card) yang udah lama dipake, sekitar sepuluh tahunan lah. Operator IM3 dengan sebelas digit. Nomornya ya lumayan cantik lah. Nomor sudah tersebar sampai saat ini dan semuanya berjalan lancar hingga kebingungan terjadi ketika si A memakai HP dengan slot sim card tunggal. Berikut obrolannya bersama si B.

A: A, aku lagi bingung nih.

B: Kenapa?

A: Nomorku yg IM3 kan udah lama aku pake. Pake buat kerjaan dan macem-macem. Aku sayang kalo ganti nomor. Takut klien lama kalo mau hubungin, gak bisa. Tapi masalahnya, jaringan Indosat di rumahku itu jelek banget. HP udah 4G aja masih dapetnya sinyal Edge.

B: Yaudah kamu pake dua kartu dong. Satu buat paket data, satu buat nomor IM3 kamu.

A: Ya dulu juga aku gitu. Masalahnya aku sekarang pake HP yang satu kartu, gak hp dual sim.

B: Ya beli yang dual sim lah.

A: Aku lagi pengin pake iPhone. Tahu kan iPhone hanya satu sim card?.

B: Oke, kalo pake dua HP?

A: Males. Sebenarnya ada HP jadul, tapi ya males aja bawa dua HP. Kalo mau internetnya lancar, aku harus pake kartu lain. Yang udah aku coba dan lancar, itu Telkomsel atau Tri. Tapi nomor Indosatku sayang. Lagian males juga ngasih tahu kalo nomorku ganti.

B: Kamu kebanyakan malesnya sih.

A: Oh, ya. Aku kan bosenan nih. Kalo nanti aku ganti ke HP Android lagi yang dual sim card, kan nanti aku nyesel deh udah ngebuang kartu lamaku itu.

B: Hmmm begitu ya? Sebentar. Aku ada ide. Kamu harus pake fitur “CALL FORWADING”. Bahasa Indonesianya apa ya, “PENGALIHAN PANGGILAN” kalo gak salah.

Jadi, nomor kamu yang lama di setting call forwarding ke nomor paket data kamu. Kamu mau pake apa? Katamu kan yang bagus Telkomsel. Oke kamu beli paket data telkomsel yang sekali buang gitu. Nah, saat setting call forwading nomor IM3 kamu, kamu  set forwarding to ke nomor Telkomsel kamu. Cara Call forwarding bisa cari di internet. Tergantung HP juga. Tapi secara umum masuk pengaturan atau setting, masuk phone, terus call forwarding, abis itu pilih, mau always, atau saat busy saja, atau saat tidak diangkat saja. Nah, kalo kamu punya hp jadul, kamu gak usah bawa, set aja ke always. Tapi SMS gak bisa lho. Hanya panggilan. Kan zaman sekarang udah jarang pake SMS, paling WA dan BBM kan?

A: Waaaaaaaaaaahhhhh. Ide kamu boleh juga. Makasih yaaaaaa…..

 

 

CARA MEMBUAT SIM (C) BARU

*Pengalaman Membuat SIM (C) Baru di Polres Bantul
*Tips & Trik Lulus Ujian
*Lebih Seru Tanpa Calo

Jogja, 16 Desember 2016

Dua hari yang lalu saya berulang tahun. Terima kasih ucapannya. Hehe. Saya jadi ingat kalo SIM C saya habis masa berlakunya di tahun ini. Saya bingung apakah akan bikin baru atau perpanjang saja. Jadi, beberapa tahun yang lalu saya pindah domisili dan KTP saya otomatis ganti alamat dari Cirebon menjadi Bantul. SIM C dan SIM A saya masih beralamatkan Kota Cirebon. Jadi, ketika saya tanya-tanya, itu tidak bisa diperpanjang karena perpanjangan itu harus berdasarkan alamat KTP. Pilihannya, mutasi dahulu SIM-nya, baru bisa diperpanjang. Atau pilihan kedua, ya bikin baru.

Kalau mau mutasi, saya harus merepotkan bapak saya yang di Cirebon, ya buat mencabut berkas terus dikirimkan ke Bantul, kemudian saya perpanjang SIM di Bantul. Keuntungan mutasi, ya tidak usah ikut ujian teori, ujian praktik 1 dan 2, yang setelah saya ikuti kemaren banyak mengeliminasi peserta. Kalo saya tahu sebelumnya mungkin saya pilih mutasi saja. Hehe. Nggak kok, kalo konsentrasi dan tidak tegang pasti bisa.

Karena nggak enak ngerepotin bapak saya, saya putuskan untuk bikin baru saja.

Tanggal 14 waktu sudah tengah hari, saya pikir percuma kalo bikin hari itu. Kayaknya butuh waktu seharian untuk bikin SIM. Jadi, saya coba buat nyicil kelengkapan berkasnya. Ya, cuma fotokopi KTP dan surat keterangan sehat dari dokter.

Oke saya fotokopi KTP dan sekalian kartu BPJS, kan mau ketemu dokter BPJS saya. Langsung ke Klinik langganan saya, bilang mau minta surat keterangan sehat. Ketika saya kasih kartu dan fotokopi BPJS saya, petugasnya bilang kalau surat keterangan sehat tidak cover alias ditanggung BPJS. Oh begitu. Oke cak-cek-cak-cek. Bayar Rp. 30.000,-

Udah deh hari itu tanggal 14, balik kerja lagi.

15 Desember 2016

Jangan lupa sarapan. Bawa air minum biar ngirit aja sih hehe. Oh ya sama bawa bolpoin. Saya udah siapin tuh bolpoin di sore sebelumnya. Tapi pas di Polres kok gak ketemu di tas saya. Akhirnya beli di sana.

Datang sana saya bisa dibilang telat. Jam 8.20, udah rame banget. Masuk ke Polres Bantul nanya di mana bagian pelayanan SIM. Diberi petunjuk dengan bahasa Jawa halus. Saya paham meski tidak bisa membalas dengan bahasa yang sama.

Masuk di bagian pelayanan SIM udah rame. Sebelah timur loket BRI, di depannya banyak kursi tunggu yang sudah hampir ditempati. Sebelah utara, pintu masuk, tanpa pintu sih sebenernya. Ada petugas polisi yang melayani.

“Pak, mau bikin SIM.”

“Silakan siapkan berkasnya. Foto kopi KTP dan surat sehat. Masukan ke loket BRI,” kira-kira begitu kata Pak polisi.

Oke saya masuk. Di sana ada dua keranjang untuk menumpuk berkas. STNK dan SIM. Saya basa-basi ke Ibu petugas di loket BRI. Bu, saya taruh sini ya. Terus, saya nunggu nama saya dipanggil di depan loket tersebut. Loket BRI adem. Ber-AC. Sayang, kami nunggunya bukan di dalam.

Sekitar 5 -7 menit, nama saya dipanggil. Bayar 100 ribu. Saya dikasih formulir. Diminta masuk ke pintu yang dilayani Pak polisi tadi.

Saya dikasih tanda pengenal yang dikalungin itu loh kayak pengunjung di sebuah kantor. Tulisannya kalo gak salah Pembuatan SIM Baru. Aduh saya lupa foto. Saya termasuk orang yang malu kalo foto-foto di tempat umum. Disuruh beneran dikalungin. Terus diminta ngisi formulir.

Nah, saya cari bolpoin yang udah tak siapkan di tas, gak ketemu. Saya minta izin keluar mau beli bolpoin, karena di sana gak ada yang bisa dipinjami. Eh ternyata di belakang tempat tunggu loket BRI tadi ada ibu-ibu ngejual minuman dan bolpoin yang merupakan best seller ibu tersebut. Dua ribu. Oke terima kasih saya bisa isi formulir.

Selesai, saya ke loket 1 (penyerahan berkas), tapi sebelumnya saya ambil no antrean. No. 059. Dapet dua kopi. Yang satu untuk antre penyerahan berkas dan satunya lagi untuk antre foto. Di monitor yang dipanggil untuk nyerahin berkas tersebut, baru no. 24. Sedangkan untuk antrean foto, baru no. 12. Jadi no. Antrean yang saya ambil itu terus dipake dalam satu hari itu. Cukup ambil satu nomor.

No. 59 dipanggil untuk nyerahin berkas. Terus diminta untuk antre foto. Saya masih pegang satu nomor lagi karena yang satu udah saya kasih ke loket 1 (penyerahan berkas). Saya nyantai di depan ruang tunggu loket 1. Toh antrean untuk foto masih jauh (sekitar no. 30an) dan kelihatan dari monitor.

Nunggu itu dibawa asyik aja. Bisa nonton tayangan yang disediakan di sana. Bisa maen game di HP. Atau yang lainnya, mungkin ngajak ngobrol yang duduk sebelah kita. Nah, di sebelah saya duduk cewek. Lebih muda dari saya. Sendirian. No. Antreannya 91. Saya gak sengaja liat, ya karena emang keliatan wong sebelahan. Antrean foto masih no. 56. Antrean penyerahan berkas 91. Tapi mbak itu kok gak ke loket 1. Saya bingung mau ngasih tahu, takut dibilang mau modus (ngajak kenalan). Bener. Gak ada yang ke loket 1. Dipanggil 2 kali. Mbak itu masih pegang no. Antrean dan sesekali liat hp. Waduh, saya harus mengorbankan ego saya untuk menolong mbak-mbak yang lumayan ini hahaha. No. Antrean penyerahan berkas lanjut ke no. 92. Aduh kasian nih kalo gak dikasih tahu.

“Mbak, maaf antrean no. berapa ya?

Untung jawabnya ramah. “91, Mas.”

“Udah kelewat lho, Mbak,” kata saya sambil menunjuk monitor.

“Saya nunggu untuk foto kok, Mas”. Kata mbaknya yakin. Iya sih memang kalo dari pemahaman di ceklis yang dilampirkan di formulir. Di sana tertera ada ceklis pengambilan foto, ujian teori, ujian praktik 1, ujian praktik 2, pengambilan  SIM. Nah, mbaknya mungkin liat monitor antrean foto masih no 56. Padahal kan harus ngasih berkas dulu, baru bisa diinput secara online sehingga bisa diakses di bagian foto.

“Iya mbak, tapi berkasnya dikasih ke situ dulu.”

Mbaknya langsung nanya ke loket 1. Saya berharap apa yang saya tunjukan benar, kalo salah malu lah. Mbak itu balik ke saya dan bilang “Makasih ya, Mas,” sambil senyum. Ini kalo di FTV bisa jadi judul “Cintaku di Ruang Tunggu Polres.” Tapi ini kehidupan nyata, di mana saya sudah punya istri dan anak 2. Dan no antrean saya udah hampir dipanggil. Saya mohon diri ke ruang tunggu foto.

Masuk ruang foto. Ber-AC. Adem Coy. Dicek apa ada yang salah penulisannya. Terus sidik jari langsung di situ juga. Kalo saya bikin SIM yang dulu harus menuju ke tempat sidik jari yang manual. Yg pake tinta itu lho. Dan juga ngantre lagi. Sekarang sudah enak. Langsung. Tangan gak kotor. Setelah jepret, langsung diminta untuk ujian teori. No. antrean tadi dibalikin. Dikasih tahu juga letaknya. Makasih pak polisi.

Di sana ada tulisan ruang ujian teori. Tapi di pintu masuk ada tulisan “selain petugas di larang masuk.”

Saya bingung boleh masuk atau nggak. Takut disemprot kalo masuk. Ada mbak lainnya yg dateng. Juga ngikut saya. Maksudnya keputusannya. Masuk atau nggaknya. Mentang-mentang saya lelaki. Hehehe. Okelah coba ketuk, ternyata di suruh dorong yang keras karena pintu otomatis yang nutup sendiri. Saya tanya “Boleh masuk Pak?”

“Ya, boleh”

“Soalnya itu ada tulisan selain petugas dilarang masuk, Pak.”

Tidak dijawab, tapi saya langsung buka pintu lagi mempersilakan masuk mbak yang tadi.

“Mbak, boleh masuk mbak.”

Saya kasih no. antrean. Petugas menulis no ujian di no antrean. Setelah itu menuju salah satu kursi yang kosong.

Diberi arahan. Di depan saya layar sentuh. Saya udah nyiapin bolpoin tapi gak kepake. Saya kira masih kayak dulu. Hehe. Sekarang jawabnya tinggal sentuh layar.

Soal ujian ada 30 soal. Pilihannya ada 2. A dan B. Pertanyaannya gampang kok. Tipsnya pilih aja yang dirasa itu harus selayaknya dilakukan pengguna jalan. Misalnya begini.

Ketika lampu sudah menyala kuning apa yang harus kita lakukan. Pilihan (A) jalan pelan-pelan dan berhenti. (B) tancap gas sebelum merah.

Tentu saja pilihannya A kan? Gampang kan? Tapi tetap aja saya salah 3. Jadi jawaban saya yang benar hanya 27. Lulus.

Saya diminta untuk ujian praktik 1 dan 2. Tempatnya bukan di Polres Bantul. Tapi di Terminal Palbapang. Saya tanya ancer-ancernya sama petugas parkir. Tadi pas keluar ujian teori ada mbak lainnya lagi. Buntutin saya. Dia juga bingung di mana terminal Palbapang berlokasi. Mbak itu di belakang saya yang sedang nanya ancer-ancernya. Terus dari belakang bilang, “Mas, aku ngikut ya. Gak tau tempatnya.” “Oke mba.” Saya nggak bohong ya, kenapa dari tadi dikelilingi mbak-mbak-mbak. Saya tahu itu karena mereka gak ada yang nganter. Hahaha. Kalian sih sibuk kerja terus.

Masuk ke terminal Palbapang saya baru menyadari kalau ini seru. Mungkin perasaan itulah yang mendorong saya akhirnya mengambil foto.

img_20161215_103206

Saya kumpulkan no. antrean saya itu dan mengisi daftar hadir. Nama, alamat, no. antrean, dan tanda tangan. No. antrean tetap yang di awal. 059.

Saat saya datang, di sana sudah dilakukan ujian untuk gelombang pertama. Saya masuk yang gelombang 2. Jadi saya bisa lihat-lihat bagaimana mereka lulus dan bagaimana mereka gagal. Serius, banyak yang gagal. Baik laki-laki maupun perempuan. Jenis kelamin bukan jaminan. Oke saya akan ulas lengkapnya.

Ujian praktik dibagi 2. Yang pertama praktik menaiki motor. Yang kedua, pengecekan kendaraan dan tes pengetahuan tentang rambu-rambu serta pengarahan agar tidak melanggar.

Ujian praktik pertama dibagi 4 sesi.

Pada ujian praktik 1 ini persiapkan motor yang standar. Semua lampu dan klakson berfungsi semua. Spion harus sepasang. Helm standar. Dan jangan lupa talinya dikancingkan. Bensin cukup. Kalo perlu diservis dulu.

Kemudian hal vital lainnya adalah tumpuan kaki. Kaki yang menginjak tanah adalah kaki kiri. Kaki kanan di footstep. Jangan dibawah dua-duanya. Tumpuan jangan kebalik. Langsung gagal itu.Diberi kesempatan dua kali. Kalo yang kedua masih gagal, berhak mencoba 2 kali lagi di hari yang berbeda dalam rentang waktu 14 hari.

Saat dilintasan, kaki tidak boleh turun, ban tidak boleh nempel garis, atau menyenggol balok pembatas, apalagi pembatas sampe jatuh.

Peluit dua kali menandakan kita dipersilakan melaju. Peluit satu kali kita harus berhenti.

Sebelum melaju, harus nengok ke kanan (agak ke arah belakang malah bagus). Alasannya supaya di “kehidupan nyata” kita terbiasa menoleh dulu apakah ada kendaraan di belakang kita. Begitu hehe. Ingat, sebelum melaju. Baik pada saat di garis finish, dan mau keluar pun. Banyak yang gagal hanya karena tidak menoleh.

Ujian praktik 1 terdiri dari 4 sesi.

  1. Lintasan Lurus
  2. Lintasan S (Ular)
  3. Lintasan Angka 8
  4. Lintasan belokan U atau putar balik (U-turn)
  1. Lintasan lurus

Motor berada di belakang (sebelum) garis start. Peluit dua kali. Toleh kanan belakang. Jalan. Peluit satu kali. Berhenti sebelum garis finish. Toleh ke belakang. Keluar garis finish. Lintasannya lurus aja.

sim1

2. Lintasan S atau ular.

Motor berada di belakang (sebelum) garis start. Peluit dua kali. Toleh kanan belakang. Jalan ambil kanan belok kiri. Belok kanan. Belok kiri. Belok kanan. Peluit satu kali. Berhenti sebelum garis finish. Toleh ke belakang. Keluar garis finish.

3. Lintasan Angka 8

Motor berada di belakang (sebelum) garis start. Peluit dua kali. Toleh kanan belakang. Jalan membentuk angka 8 (dua kali). Belok Peluit satu kali. Berhenti setelah garis finish. Toleh ke belakang. Jalan.

sim3

4. Lintasan U

Motor berada di belakang (sebelum) garis start. Peluit dua kali. Toleh kanan belakang. Jalan. Lalu putar balik tanpa menginjak tanah. Berhenti sebelum garis finish. Toleh ke belakang. Jalan.

sim4

Tips agar lulus. Jika akan belok kanan khususnya putar balik di sesi lintasan U, usahakan motor kita lebih banyak di sisi kiri, jadi saat mau belok kanan tidak nabrak balok di kanan kita. Begitu juga di lintasan angka 8. Di saat masuk, kita akan belok kiri secara tajam. Usahakan motor kita berada lebih banyak di sisi kanan. Sehingga saat belok kiri kita lebih punya banyak ruang. Jadi awalannya penting. Ini sepertinya belum dipahami oleh sebagian cewek yang ikut tes. Bahkan cowok-cowok pun ada yang masih belum mengerti.

Ujian Praktik 2.

Pengecekan kendaraan bermotor dan pertanyaan seputar rambu serta pengarahan umum.

Semua yang lulus ujian praktik 1, lulus pada ujian praktik 2. .

Alhamdulillah, saya lulus, dengan sekali kesempatan. Seru, Gaes. Kayak audisi ajang pencarian bakat itu lho. Banyak yang tereliminasi. Saya bisa memperkirakan yang ada saat itu (dua gelombang) sekitar 80 peserta. Yang lulus hanya sekitar 30.

Saya lihat raut kecewa dari seorang cewek sekitar umuran SMA. Dia gagal di lintasan 8. Sepertinya dia masih kurang lihai membawa motor, tapi datang ke sana bersama ibunya. Cewek itu yang mengemudikan motornya. Ibunya dibonceng.

Anak lelaki berseragam SMA, juga diantar ibunya. Si cowok itu juga gagal di lintasan angka 8. Meski gagal, dia bisa membonceng ibunya juga.

Oh, ya selain cewek, saya juga ngobrol sama cowok. Dia gagal di lintasan U. Saat putar balik ke kakinya selalu nginjak tanah.  Memang sih lebih mudah dan terbiasa untuk putar balik arah ke kiri.

Penting sekali untuk berkonsentrasi. Ingat menoleh. Pijakan kaki. Dengarkan peluit. Siapkan motor yang biasa kita pake. Kalo bisa ya jangan gede-gede motornya. Susah manuvernya. Tapi kalo udah biasa sih gak papa kali ya.

Kemudian, kami yang lulus diberi  hasil ujian untuk diserahkan kembali ke loket 1. Dan antre lagi untuk menunggu pengambilan SIM. Dan, akhirnya jadi juga setelah menunggu sekitar 15 menit.

img_20161215_130527

Oh, ya dari tadi pagi saya dateng 8.20, saya keluar polres sekitar pukul 13.30. Langsung makan siang, Gaes. Hehehe

Nge-NOSE

Cerita ini saat Abil umur 2 tahun lebih 10 bulan. Di suatu malam sekitar pukul 20, saya masuk kamar dan rebahkan tubuh yang hanya tersisa sebagian energi saja. Kebiasaan saya saat itu (mungkin kebiasaan yang kurang baik), mencet-mencet telepon (saat itu istilahnya maenan gadget). Caltha dan Minda lagi maen di ruang keluarga. Nonton tivi. Abil juga maen apa saja yang ada di sana. Tapi, melihat saya masuk, kamar, biasanya dia akan ikut. Iya, malam itu dia juga ikut masuk. Ikut merebah. Biasanya dia bakal ngerebut HP saya atau bisa melompati tubuh saya, atau paling nggak ya minta saya membentuk posisi mirip motor sehingga dia bisa menaikinya. Tapi, malam itu kok enggak. Yaudah, saya buka-buka situsweb dan media sosial.

Di sebelah saya, Abil berkata, “Nos…. Nos”. Kata Abil sambil menawarkan secuil benda kering. Saya yang lagi asyik membaca konten di situsweb menoleh sebentar dan membalas berkata, “Oh, iya… nasi….” Kuambil benda keras kecil itu. Lalu, aku lempar asal. Saya menganggap anak ini gak mau ada benda-benda yang bikin dia gak nyaman tidurnya.

Aku balik lagi ke gadget.

Lagi, si Abil ngulurin benda kecil keras sambil bilang “Nos… nos.”

Belum sempat aku mau komplain sama istriku kenapa banyak nasi (makanan) di tempat tidur, ternyata dia sudah ada di depan pintu sambil gendong Caltha. Lagi senyam-senyum.

Melihat ada yang aneh, aku tengok Abil dan akhirnya aku berhasil memergokinya lagi asyik ngupil dan memberikan hasil kerjanya itu padaku sambil bilang “Nos”.

Aku langsung menyadari bahwa maksud “Nos” yang Abil katakan adalah “Nose (hidung)”, dan dalam hal ini kotoran hidung, meski dia tetap saja bilangnya nos.

Pasti ekspresinya yang serius dan tengil lah yang bikin istri saya senyam-senyum ini. Atau juga karena level iseng Abil yang semakin naik. Entahlah, tapi yang paling pengin aku tahu adalah kenapa pula si Abil ngasih “nos” dari “nose”-nya itu kepadaku yang lagi asyik maenan gadget. 

 

 

 

 

Laminated, top solid, all solid wood guitars

Gitar pertama saya merk Yamaha, entah seri apa dan berapa. Saya mulai memakainya sejak saya SMP kelas 2, sekitar tahun 1997. Masih saya pakai sampai saat ini, 2016. Ternyata saya baru sadar kao gitar saya itu awet ya. Apalagi, saya tidak membelinya dari toko musik. Ketika saya lagi seneng-senengnya belajar gitar, tentu saya minta dibelikan. Entah gimana ceritanya, ayah saya membelinya dari seorang tetangga cukup jauh. Gitar itu sudah tidak dimainkan sama si tetangga itu. Umurnya saat gitarnya dibeli ayah saya, sekitar 40 tahunan. Saya perkirakan gitar itu dibelinya saat ia remaja. 1997 -20 tahun = 1977. Iya, gitar itu mungkin dibeli dari tokonya tahun 70an.

mr
Mr. Wai saat tahun 2015

Kembali ke gitar saya, oya, namakan saja Mr. Wai. Saat dibeli ayah saya, Mr. Wai tidak terurus. Bagian belakang dan samping terpisah, tak ada rem yang merekatkannya. Bagian depan (tepatnya di bagian pickguard) catnya mengelupas. Mungkin karena pickguardnya lepas sehingga melukai catnya.

Ayah saya membelinya seharga Rp. 10.000,-. Iya sepuluh ribu rupiah. Saat itu bensin (premium) masih sekitar 700 rupiah.  Kami lalu membawanya ke luthier terkenal di Cirebon. Namanya Pak Odeng. Rumahnya di Cangkol. Sekarang masih ada gak ya. Saya lupa jalan masuknya karena saya ke sana dua kali dan masih kecil (13 tahun). Ayah saya mungkin masih ingat.

Nego-nego, Pak Odeng minta harga Rp. 35.000,- (tiga puluh lima ribu rupiah) buat bikin jadi layak pakai gitu lah. Dijanjiin sekian minggu. Pertama kali mau ambil gitar, ternyata belum jadi. Aduh kecewa dong rasanya. Maklum masih anak-anak. Kedua kalinya ke sana, alhamdulillah jadi. Hasilnya waduuuhh… Mungkin gak ada yang percaya harga gitar itu dibeli RP.10.000 plus ongkos benerinnya Rp.35.000,-.  Angka ini selalu saya ingat dan sering saya lontarkan dengan bangga ketika ada yang bertanya berapa saya membeli gitar ini.

Di atas saya bilang “Ternyata saya baru sadar kao gitar saya itu awet ya.” Iya, bayangkan sudah berapa puluh tahun, masih saja enak digunakan. Pernah saya nganter temen beli gitar, waktu itu saya belum tahu yang namanya laminate atau solid wood ya. Itu sekira tahun 2005, harganya cuman 300 ribuan. Wah, murah juga saya pikir. Tapi gitar itu gak bertahan lama. Setelah saya tahu, itu memang laminated wood guitar, yang katanya dibuat dari plywood, bukan kayu solid.

Awalnya gitar saya dipasang senar baja, namun seiring pengetahuan saya tentang gitar, karena gitar saya berbodi klasik, saya pasangin nylon.

Entah kesambet angin apa, saya kok saat ini pengin beli gitar dengan bodi dreadnought yang dipasangi senar baja. Enak aja buat nyanyi-nyanyi di rumah. Saya brosang-brosing, nambahlah pengetahuan saya tentang bahan baku gitar akustik. Ada yang istilahnya all laminate, top solid, dan all solid.

All laminate artinya kalo gak salah bahannya dari plywood yang dilaminasi. Top solid, bagian atasnya aja yg kayu solid. Bagian samping dan belakangnya laminasi. All solid, semua kayu solid.

Setelah brosing harga, saya jadi ngerem mau belinya. Kalo mau beli yang laminate atau top solid sih cukup uangnya. Tapi masa lebih jelek kualitasnya dari gitar yang udah saya punya.

Saya jadi ingat dengan Mr. Wai saya. Saya yakin dia all solid. Saat saya lengah, itu gitar pernah digetok-getok pake sendok. Pernah jadi landasan mobil-mobilannya. Pernah naikin neck-nya yang dalam posisi ditaro di sofa. Duh, Nak… Kalo udah gede coba deh cek harga gitar yang all solid. Hahaha.

Lalu bagaimana membedakan mana yang yang kayu solid dan mana yang enggak?

Seorang bernama Slim menulis saat ada yang bertanya bagaimana cara membedakannya, (saya terjemahkan bebas ya) “Yang kita khawatirkan kalo gitarnya laminated wood kan suaranya? Ya udah. Kalo kita suka suara gitarnya, beli aja meski gitar itu laminated. Tapi kalo kita nggak suka suaranya, ya jangan beli meskipun itu solid.”

Ya, tapi kan nanti gak awet, Slim. Hehehe. Lagian kalo pake solid wood, semakin tua umurnya, suaranya akan bertambah bagus lho.

Saya semakin bingung. Ada saran gak?

 

Cara Memainkan Game Card dari Choki-Ckoki

Suatu pagi, seorang ibu mengirim SMS kepada anak laki-lakinya yang punya anak laki-laki. Isinya demikian, “A, udah tau permainan kartu coki-coki?”

Anak laki-lakinya membalas, “Belum tau, Bu?”

Ibunya, nenek dari Abil, balas lagi, “Buka Youtube. Ada cara maennya.”

Oke meluncur ke TKP.

Jadi, untuk memainkannya, pertama-tama kita harus membeli cokelat Choki-choki yang dapet Game Card. Seperti gambar di bawah ini.

Buka kemasannya, makan cokelatnya. Eh gak usah gak apa-apa ding. Terus buka bungkusan kartunya. Cari yang warna merah saja. Soalnya warna biru dan ungu cuman buat penambah kekuatan aja. Sudah siap.

Siapkan HP Androidmu. Gak tau kalo iphone ada gak ya. Saya pake android soalnya.

Download aplikasi dari playstore yang namanya Choki-Choki AR Boboiboi.

Jejerkan kartu yang warna merah. Pilih yang kira-kira musuhan. Soalnya kalo temen mereka gak mau berantem. Hehehe.

Ini link videonya kalo mau liat:

 

Saya menduga Kartini menginspirasi istri saya.

Sejak awal April, bulan kelahiran Kartini, istri saya lagi semangat-semangatnya menekuni bisnis kerajinannya. Mulai awal bulan ini dia pinjam modal usaha dari seorang investor. Meski sudah beberapa kawannya meminta dibuatkan karya rajutan tangan beberapa bulan yang lalu, istri saya baru mulai menerima order di bulan ini. Dia habiskan beberapa bulan sebelumnya untuk belajar.

Bayangkan, dengan dua anak yang lagi aktif-aktifnya ini, dia masih sempat berkarya dan bergelut dengan ruwetnya benang rajut. Nanti akan saya ceritakan bagaimana dia membagi waktu yang sempat membuat saya kesal karena merasa kurang diperhatikan. Hehehe

Iya, saya menduga Kartini sudah menginspirasi dia. Saya bertanya-tanya dalam hati mengapa ia harus memulai usaha ini di bulan April? Pasti ini ada hubungannya dengan tokoh emansipasi ini.

Dalam dua minggu ini, orderan mulai selesai, dan transferan masuk ke rekening. Modal belum dia kembalikkan karena masih jauh jatuh temponya. Dia putar lagi untuk membeli benang-benang yang berkualitas super. Kalo gak salah, ada yang namanya Milky Cotton. Katanya ini import dari Jepang. Istri saya itu memang sangat mengutamakan kualitas dan kepuasan pemesannya. Pernah, di suatu waktu, karena merasa karyanya kurang puas untuk dikirimkan ke pemesan, dia bongkar lagi. Padahal yang dia bikin itu menurut saya sih lumayan lah dan gak mungkin yang pesan itu bakal memperhatikan dengan detail. Tapi, itulah dia. Saya pikir dia bekerja bukan karena mau dapet duit aja. Karena itu passion-nya, dia kerjain bener-bener.

IMG_20160416_202318DSCN0181

Kembali ke hubungannya dengan Kartini, istri saya telah berhasil menunjukkan, minimal kepada saya, bahwa dia bisa punya penghasilan sendiri, meski tidak berangkat ke kantor. Meski bekerja dari rumah. Dan, meski repot dengan pekerjaan rumah tangga ditambah dua anak kami yang masih umur 2,5 tahun dan 6 bulanan.

Saya menduga dia terinspirasi oleh Kartini. Namun demikian, dia bukan wonderwoman atau robot. Tentu saja ada yang ia korbankan. Mulai dari rumah yang berantakan sampai suami yang dianggurin. Hahaha.

Begini kesehariannya selama dua minggu belakangan.

Saat saya sudah berangkat ke kantor, ia akan memandikan anak-anak satu per satu. Mungkin menyuapi si Kakak, karena si adik udah disuapi saat saya masih di rumah. Kemudian, mungkin ngelonin si adik. Si kakak biasanya maen hotwil. Piring-piring belum dicuci. Dia nyuri waktu buat ngerajut. Kalo si adik bangun atau minta nenen, ya dihentikan kerjaannya. Kalo si kakak minta minum atau apa ya dipending kerjaannya. Tengah hari makan (masakan dari mana? Saya yang beli tadi pagi), sambil nyuapin si kakak. Biasanya si kakak tidur. Kalo kakak adik tidurnya bareng, istri saya ikutan tidur. Si adik siang juga disuapin makan bubur sehat (saya yang beli di Larizza pagi harinya). Di sela-sela waktu sore dia juga nyuri waktu buat ngerajut. Sore dia mandiin anak-anak.  Kalo laper mungkin pada nyemil. Sore saya pulang, sebelumnya beli lauk, bahkan kalo gak sempet masak nasi ya beli sama nasinya buat makan malam. Abis mandi, saya gantiin maen sama anak-anak. Si adik lagi seneng naik sepeda dibonceng di depan gitu. Si kaka naek sepeda roda tiga sendiri.  Sementara itu istri saya mandi atau ngapain gitu. Mungkin cuci piring, beresin pakaian, rapi-in rumah.

DSCN0163DSCN0169

Abis magrib ya main di dalem rumah. Kalo anak-anak anteng ya istri saya nyuri waktu lagi buat ngerajut karena memang pesanan banyak dan semua ada deadlinenya. Si adik biasanya tidur duluan. Si kakak minimal tidur jam 23 malam. Saya tidur lebih cepat dari si kakak.  Nunggu si  kakak tidur, istri saya ngerajut. Setelah tidur, istri ikut tidur. Istri saya bangun lagi jam 3 pagi, ya ngerajut. Kalo ngantuk ya jam 6an tidur sebentar. Si adik biasanya bangun jam 7. Si kakak jam 8. Saya belum mandi langsung mengerti tugas saya, bahkan sebelum istri saya nyuruh. Beli sarapan, bisa nasi kuning, nasi uduk, bubur, lontong sayur. Beli bubur Larizza buat si adik sarapan, makan siang, dan malam. Makan selingan si adik juga ada Milna, buah dan lainnya lah. Selain itu, saya beli lauk buat makan siang istri dan si kakak. Nasi biasanya masak sendiri. Itu belanjaan utama yang saya beli di seputaran Pasar Ngipik. Pulang Si adik biasanya udah bangun. Maen di baby walker. Istri saya nyuruh saya buat sarapan atau mandi aja, tapi karena saya suka nyaring, saya yang nyaring. Abis itu Si Kakak bangun ketika saya siap berangkat kantor. Dia minta ikut. Oke ke warung beli jajan dulu sebelum saya berangkat.

Suatu hari saya pernah kesal juga. Nyuruh istri jangan lupa istirahat. Jangan lupa senyum. Iya pagi itu dia lupa senyum karena mungkin ngantuk. Saya kesal karena efek dianggurin juga kali ya. Harusnya kan diapelin atau dijerukin. Skip… nggak lucu. Krik…krikkk. Iya saya marah tapi akhirnya sama-sama minta maaf. Lalu ngajakin malam hari nanti saya tidak makan anggur. Huaha

Oke lah sudah… sudah. Saya tutup tulisan ini.

Nah, pada hari ini. 21 April 2016, mentang-mentang hari Kartini, istri saya tidak lembur. Bangun dengan wajah segar, senyum aduhai. Masak menu spesial untuk sarapan. Melihat saya lahap makan masakannya, dalam senyumnya seperti bertanya, “Jadi Pinda (kamu, red) suka ‘Kartini’ yang mana?”